×

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google

0

Serius

8 Penyakit ini disebut bikin anggaran BPJS Kesehatan jadi defisit

foto: merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Diprediksi tahun 2019, defisit BPJS kesehatan mencapai Rp 9 triliun

Hira Hilary Aragon

(brl/red)

09 / 10 / 2019

Brilio.net - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan terus mengalami defisit anggaran. Diprediksi tahun 2019, defisit BPJS kesehatan mencapai Rp 9 triliun.

Menurut Direktur Kepatuhan Hukum dan Hubungan antar Lembaga badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Bayu Wahyudi, defisit tersebut juga dipengaruhi oleh hampir 30 persen dana yang dibayarkan BPJS digunakan untuk membayar klaim penyakit katastropik.

"Penyakit katastropik yang dibayar BPJS itu hampir 30 persen, jadi menyedot uang itu. Penyakit katastropik termasuk hipertensi, jantung, kanker, leukimia, gagal ginjal stroke dan sebagainya," ujar Bayu seperti seperti dikutip dari merdeka.com, Rabu (9/10).

Dilansir dari merdeka.com, berikut penyakit katastropik yang membuat BPJS Kesehatan selalu defisit dari tahun ke tahun, Rabu (9/10).

 

1. Jantung.
Jantung menjadi penyakit paling mematikan di dunia dan Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dr Cut Putri Arianie mengatakan, berdasarkan Sample Registration System (SRS) penyakit jantung menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah stroke.

Dikutip dari situs Kementerian Kesehatan RI, penyakit jantung menyebabkan negara rugi. Berdasarkan Data BPJS Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan biaya kesehatan untuk penyakit jantung dari tahun ke tahun.

Pada 2014 penyakit jantung menghabiskan dana BPJS Kesehatan Rp 4,4 triliun, kemudian meningkat menjadi 7,4 triliun pada 2016, dan masih terus meningkat pada 2018 sebesar Rp 9,3 triliun.

"Hal ini menunjukkan besarnya beban negara terhadap penanggulangan penyakit jantung yang harusnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko," kata dr Cut pada Temu Media Hari Jantung Sedunia.

Penyakit jantung koroner terdiri dari penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala, angina pektoris stabil, dan sindrom koroner akut.

Penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala biasanya diketahui dari skrining, sedangkan angina pektoris stabil didapatkan gejala nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.

 

2. Gagal ginjal.
Selain Jantung, penyakit ginjal juga dijamin BPJS Kesehatan menghabiskan triliunan rupiah. Dalam hal ini yang ditanggung terkait pengobatan cuci darah (hemodialisa) pada pasien gagal ginjal.

Data BPJS Kesehatan pada tahun 2017 mencatat 3.657.691 prosedur cuci darah dengan total biaya Rp 3,1 triliun. Pembiayaan tersebut termasuk tinggi dalam kategori pengobatan penyakit tidak menular.

"Pembiayaan tersebut besar karena pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisa juga tinggi jumlahnya. Apalagi (hemodialisa) dijamin BPJS Kesehatan. Ini memberikan kemudahan pasien gagal ginjal untuk mengakses cuci darah," ujar Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) Aida Lydia.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan persentase penyakit ginjal kronik di Indonesia sebesar 3,8 persen dengan kenaikan sebesar 1,8 persen dari 2013.

 

3. Kanker.
Pengobatan kanker juga termasuk pengobatan yang ditanggung BPJS Kesehatan yang menghabiskan triliunan rupiah. Berdasarkan data BPJS Kesehatan dari 2014-2018, penyakit kanker sudah menghabiskan biaya Rp 13,3 triliun.

Sebagai informasi sebanyak 1,5 juta orang Indonesia meninggal karena penyakit kanker. Di Indonesia, jenis kanker yang menyebabkan kematian terbanyak pada pria adalah kanker paru-paru, sedangkan jenis kanker penyebab kematian terbanyak pada wanita adalah kanker payudara.

Sebenarnya banyak cara untuk mengantisipasi penyakit kanker, salah satunya dengan pola hidup sehat, menjaga berat badan, jangan merokok karena rokok bisa menimbulkan berbagai penyakit termasuk paru-paru, mulut, tenggorokan, laring, pankreas, kandung kemih, rahim dan ginjal.

 

4. Stroke.
Di Indonesia, stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama. Data Riskesdas bahkan menunjukkan, peningkatan prevalensi stroke dari 8,3 per 1.000 penduduk pada 2007 menjadi 12,1 per 1.000 penduduk pada 2013. Hal ini menandai masyarakat masih mengabaikan pentingnya pengendalian risiko stroke.

Stroke terjadi akibat sumbatan pembuluh darah (iskemik) atau pendarahan di otak (hemoragik). Untuk mencegah stroke, kata dia, disarankan untuk mengubah perilaku hidup sehat dengan menurunkan berat badan, banyak makan serat, konsumsi buah dan sayuran, berhenti merokok, olahraga teratur, hindari stres dan pembatasan konsumsi lemak berlebih.

 

5. Sirosis hati.
Selanjutnya ada sirosis hati, sirosis hati adalah penyakit yang diakibatkan karena kerusakan hati. Pada sirosis, kerusakan hati meninggalkan bekas luka yang mengakibatkan hati tak lagi bekerja normal, seperti membuat protein baru, melawan infeksi, menyingkirkan zat tidak berguna dari darah, mencerna makanan, dan menyimpan energi.

Sirosis dapat dipicu oleh beberapa faktor antara lain, infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C, konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, berat badan berlebih. Bila terjadi selama bertahun-tahun, sirosis bisa menyebabkan gagal hati, sehingga hati tidak lagi berfungsi dengan baik. Namun jika penyebabnya diobati, perkembangan sirosis dapat dihentikan atau diperlambat.

Sirosis hati dapat dicegah, antara tidak berbagi penggunaan jarum suntik, membatasi konsumsi minuman beralkohol, kemudian mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, terpenting melakukan vaksinasi hepatitis B sesuai saran dari dokter.

 

6. Thalassemia.
Kemudian ada penyakit thalassemia. Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan faktor genetik atau faktor turunan. Thalasemia ditandai oleh produksi sel darah merah atau hemoglobin dengan bentuk abnormal, berukuran terlalu kecil, atau dalam jumlah yang tidak tidak memadai (terlalu sedikit).

Penderita thalasemia akan menimbulkan keluhan cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak napas. Akibatnya, aktivitas penderita thalasemia akan terganggu.

Penderita thalasemia akan melalui transfusi darah berulang untuk menambah sel darah yang kurang. Pada kasus thalasemia yang parah, dokter mungkin akan menganjurkan penderita untuk melakukan transplantasi sumsum tulang. Tetapi tidak semua penderita thalasemia membutuhkan transfusi darah. Penderita thalasemia minor hanya memerlukan pemeriksaan rutin dan transfusi darah pada kondisi tertentu, misalnya setelah melahirkan atau operasi.

 

7. Leukimia.
Selanjutnya ada leukimia, yakni kanker yang menyerang sel darah dan sumsum tulang belakang, atau dikenal juga dengan kanker darah. Leukimia memengaruhi produksi dan fungsi leukosit atau sel darah putih dalam melawan infeksi, karena DNA darah mengalami kerusakan.

Kondisi tidak normal tadi menyebabkan sumsum tulang belakang memproduksi sel darah putih secara berlebihan. Hal ini mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang dan mengurangi jumlah sel darah yang sehat.

 

8. Hemofilia.
Hemofilia adalah gangguan darah yang membuat darah jadi sulit membeku sehingga luka akan berlangsung lebih lama. Hal ini terjadi karena protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar trombosit (sel darah) sehingga bisa membekukan darah dan pada akhirnya berhenti perdarahan. Namun pada penderita hemofilia, proses ini tidak berlangsung.

Datangnya penyakit memang tidak bisa diprediksi. Namun, jika kamu berkomitmen untuk selalu menjaga kesehatan, maka kamu bisa terhindar dari serangan penyakit di atas.

 

 

 



Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

RECOMMENDED VIDEO

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE